Oct 8, 2013

Es Campur Pak Wasmin Brug Abang

Semilir Kaligung di siang menjelang sore hari yang terik membuat saya tergerak untuk minum es. Kebetulan hari itu saya mampir Bengle dan mampir ke sini sepulangnya. Sempat bingung di jembatan besar Kaligung untuk berbelok ke kanan atau tidak di warung es campur Pak Wasmin. Akhirnya terlewat juga jembatan dan saya harus berputar balik.

"Warung Es Pak Wasmin, di depannya adalah Jembatan Lama Kaligung"

Warung es campur ini sangat sederhana. Terletak di seberang timur Kaligung, dekat dengan lapangan Ekoproyo. Dari jembatan besar turun ke bawah dan ke kiri kalau dari arah brung abang (jembatan merah), sebuah brug yang dulu kata simbah banyak suara tembakan di pagi buta. Sebuah gerobak besar yang familiar dan kotak bertembok sederhana melengkapi pemandangan ini.

"Tampak Depan"

Warung pak Wasmin namanya. Kalau anda menanyakan para penggemar es di sepanjang desa Talang, Kajen, Pesayangan, Bengle, Pasangan, Langgen dan seluruh daerah yang akrab dengan Kaligung rata-rata mengerti warung es ini. Pak Wasmin berjualan sejak saat lama. Konon pada saat pasar Pesayangan masih bertiang kayu, beliau sudah merintis untuk berjualan.

"Ibu Turah, Istri Alm. Pak Wasmin"

Beliau sudah meninggal sejak 7 tahun yang lalu (kira-kira tahun 2006) meninggalkan seorang Istri dan enam orang anak. Sekarang usaha es ini dilanjutkan oleh Bu Turah, istrinya tanpa embel-embel dan merek apapun. Di Tegal, banyak warung terkenal yang enggan memberi nama kepada warungnya dan ini sudah lumrah. Menurut orang modern mereka ini tidak sadar merek, tapi bagi orang sosial biarlah waktu dan pelayanan yang berbicara.

"Pergelet Es yang Khas (Toples Kaca)"

Tujuh belas tahun sudah Pak Wasmin dan Bu Turah berjualan di pinggir Kaligung. Mereka pindah dari Pesayangan kesini bertepatan dengan meninggalnya Bu Tien Soeharto pada tanggal 28 April 1996. Salah satu peninggalan Pak Wasmin yang masih tersisa dan antik adalah alat gusrukan esnya (alat penyerut es). Es campur pak Wasmin sebenarnya es campur biasa, namun beliau sudah ada sejak belum musim es campur yang banyak sekali seperti sekarang.

"Pembuat Es Serut Putar Manual yang Sudah Tua"

Pak Wasmin terkenal karena beliau berkeliling dengan gerobaknya di beberapa desa yang saya sebutkan di atas. Dulu saya mengalami waktu esnya masih seharga 700 perak (jaman SD) hingga tahun 2013 ini seharga yang masih terjangkau: lima ribu rupiah. Pak Wasmin orangnya ramah dan murah senyum.  Isi es campur yang dijual Pak Wasmin: tape (peyeum), potongan roti tawar, agar-agar yang berwarna warni, sagu (bulat-bulat) dan diberi es serut (es gusruk) kemudian diberi susu cair berwarna putih. Lalu diberi pemanis kental yang berwarna merah khas framborzen.

"Es Campur Pak Wasmin"

Musim, pemerintah, Negara, politik dan kebijakan silih datang dan berganti. Dalam cinta mereka tak tergantikan, khususnya bagi yang telah merasa terobati hausnya selama belasan tahun. Selamat jalan Pak Wasmin.



Budi Mulyawan

Sep 17, 2013

Aug 20, 2013

Capturing PAI Sunset #1

Capturing PAI Sunset:

"Sunset di Pantai Alam Indah (PAI) di Sebuah Anjungan"
"Beautiful Sunset in Hands by Adi MA"



Aug 14, 2013

Potret Kehangatan Desa Mentik

Sebuah momen yang tidak bisa saya lupakan ketika silaturrohim ke Desa Mentik Kec. Bumijawa Kab. Tegal. Dinginnya minta ampun dan karena dingin yang begitu keras, sisi positifnya adalah segala makanan menjadi enak. Termasuk sayuran segar seperti kol yang hanya direbus tapi rasanya manis dan sedap.

"Mentik Dingin, Manusianya Hangat"

Jalan-Jalan Alas Margasari Tegal

Waktu pertama-pertama ada kamera Canon Powershot 2400 kami mencoba test picturenya di alas jati, Margasari. Here we go:


"Dry Woods"

"Dry Leaves Too"

"Imperata in Alas Jati"

"Senja di Alas Jati Margasari"

Aug 1, 2013

Tong Tong Prek

Tongtongprek adalah suatu aktivitas menabuh bebunyian untuk membangunkan orang agar sahur. Budaya ini tumbuh di kota-kota sepanjang pantura sebagai bagian dari budaya santri. Di Pekalongan misalnya, tong tong prek juga banyak dilakoni anak-anak dan remaja Pekalongan. Mereka membunyikan orang untuk bangun sahur dengan alat seadanya: kentongan, kaleng, jerigen bekas, seng, rebana, bahkan ada yang seperti konvoi marching band.

Di Tegal sendiri banyak anak-anak yang memanfaatkan momen ini di desa-desa kami untuk berinteraksi dengan sesama, guyub rukun dan mengukir kenangan. Ini adalah potret tong tong prek yang saya tangkap ketika bulan puasa di jalan Kalimati, antara Talang dan Adiwerna. Sebelum itu saya menangkap via kamera hp anak-anak yang asyik berebut gorengan seperti kempong, cireng, tempe,dst di kafe kuburan (saya dan teman-teman sering menyebutnya) di sekitar Tegalwangi. Biasanya anak-anak keluar tong tong prek itu sekitar jam 2 malam. Kadang kalau keluar iseng mereka membawa mercon dan sambil ngembat mangga tetangga sebelah. LOL.

Banyak yang bilang tong-tong prek mengganggu aktivitas tidur masyarakat tapi saya setuju-setuju saja. Tergantung dulu kita pernah melakukannya atau tidak. Kelihatan masa kecil kita. Hehehe (Budi Mulyawan)