Oct 4, 2012

Kupat Glabed

"Mas Dikin depan Taman Poci, Salah Satu Kupat Glabed Favorit Saya"

Ketupat pada bahasa kami disingkat sebagai kupat. Kupat glabed menjadi nama yang favorit. Sebenarnya kupat glabed sama seperti ketupat-ketupat biasa di pulau Jawa. Nasi yang dibungkus dengan daun pisang atau bahkan janur kelapa. Kupat sendiri kemungkinan akronim dari “ngaku lepat” (merasa bersalah). Sebuah ide luhur yang disebarkan oleh Sunan Kalijaga dalam proses perkawinan budaya dan islam.

Kupat di Tegal biasanya dibagikan kepada tetangga, kerabat, dan orang-orang terdekat sebagai simbol memaafkan sebelum orang-orang meminta maaf padanya. Yakni dengan “ngaku lepat” yang dihaluskan kognisinya dengan mengirimkan kupat. Prosesi ini biasanya dilakukan sebelum menjelang lebaran dan sesudahnya. Di Tegal, 7 hari setelah lebaran pun disebut bada kupat kemudian budaya makanan ini berkembang menjadi kuliner komersial. Di tegal ada 3 jenis olahan kupat yang terkenal yaitu: kupat glabed, kupat bongkok (kupat sayur dengan tempe bongkrek yang didiamkan selama kira-kira 2 hari), dan kupat blengong (kupat dengan daging persilangan menthok dan bebek).

"Kupat Glabed Mas Dikin"

Glabed sendiri berasal dari ngglabed, dalam bahasa Indonesia berarti: seperti merasa tebal di lidah dan bersifat liat. Beda kupat ini dengan yang lain adalah pada adonannya menggunakan tepung beras sehingga terasa agak liat dan juga banyak santan. Kupat glabed disajikan dengan lauk seperti sate kerang, sate kikil, sate irisan ayam dengan kuah merah berminyak dan biasanya agak pedas.

"Sate Kerang, Salah Satu Lauk Kupat Glabed"

Ada 3 tempat makan kupat glabed favorit saya:
1)      Di depan stasiun, tepatnya di sebelah selatan Taman Poci. Mas Toni namanya. Sekarang digantikan oleh Mas Dikin, adiknya. Mas Tony rumahnya di Randugunting
2)      Di sebelah selatan tugu, rel tirus (arah jalan dua)
3)      Di randugunting, dari rel Karangdawa ke utara lalu belokan pertama kiri. Lurus sampai mentok dan belok kanan ke arah utara
4)      Di Talang, tapi yang ini harus ekstrim: menunggu jam 2 malam ketika dia pulang ngider (berkeliling) dengan grobak untuk berjualan (LOL)


Budi Mulyawan

Jan 13, 2012

Sintesa: Kenyataan Sejarah Kecil di Dunia yang Terlalu Besar

Belajar lagi dan share sedulur Sintesa… ^^
Menurut anda apakah waktu itu sangat mahal? Bagaimana pendapat anda dengan orang-orang yang hari ini duduk di suatu tempat bernama Wisma Arjuna dari jam 11 pagi hingga jam 9 malam atau rata-rata orang di situ duduk selama 7-10 jam? Padahal ada yang harus mengerjakan tugas deadline di esok hari, ada yang harus skripsi, ada yang harus istirahat untuk mempersiapkan senin. Pengorbanan ini dilakukan bukan satu orang atau dua orang tapi empat puluh orang lebih pada hari ini. Sementara yang tidak hadir turut simpati, mendoakan, atau minimal minta maaf tidak hadir karena ada prioritas primer dan menyampaikan salam kepada saudara-saudaranya di sini. Di tempat ini, tidak ada kepentingan-kepentingan individual yang dipenting-pentingkan, apalagi mengenai duit, semua di sini hanya tentang persamaan nasib, cita-cita, dan keprihatinan mendalam dari persaudaraan, cinta, kemesraan, kegembiraan, dan membangun Tegal.
Musyawarah tahunan untuk pemilihan ketua Sintesa periode 2011/2012 telah berlangsung dengan indah dan mesra. Kami semua sudah dewasa dan tidak perduli siapa yang terpilih. Kami berusaha tidak memihak siapapun. Kami lebih memihak “laut” daripada “sungai”, kami memihak “Sintesa” daripada “Calon Ketua Sintesa” sehingga tidak ada beban dan tidak ada kerisauan yang mendalam siapapun yang terpilih malam ini. Karena kami tahu, siapapun ketua yang terpilih ia harus tidak berhenti sebagai “sungai”, ia harus terus mengalir bersama semua menuju “laut” yang bernama: kebersamaan, kekeluargaan, dan keikhlasan itu.
Kami berusaha tidak mengumbar weakness dari calon-calon secara berlebihan sehingga tingkat pembicaraannya menjadi “ghibah” atau “ngrasani itu”. Kami semua telah sadar semua manusia itu unik sehingga tidak bisa kita membanding-bandingkannya apalagi iri kepada sesama kita. Ya. Kenyataannya Bams lah yang terpilih dengan berbagai alasan dan variabelnya. Ini tidak begitu penting, tetapi yang terpenting Suci, Oki, Husein, beserta Bams sendiri telah menunaikan tugasnya dalam menyalonkan diri menjadi ketua Sintesa. Tidak ada dari mereka yang benar-benar “ingin” dan “ambisius” menjadi ketua Sintesa.
Mereka berempat sadar bahwasanya menjadi ketua Sintesa itu bukanlah “keinginan untuk menjadi” akan tetapi memang ini adalah suatu keharusan dan panggilan amanah bersama. Dimana amanah itu adalah salah satu sifat Rasulullah dan kita semua adalah sedang menuju sifat itu dengan cara kita masing-masing, dengan jalan kita masing-masing, dan dengan segmen pada kehidupan kita masing-masing.
Malam ini Sintesa yang tegang telah berakhir. Matahari baru telah bersinar di Sintesa. Metode musyawarah dan mufakat telah bisa dilaksanakan dalam pemilihan ketua di malam hari ini. Sintesa telah membuat SEJARAH BARU dimana pemilihan ketua tidak lagi tegang dan melalui voting. Sudah tidak ada “lingsem” atau mempertahankan “egoisme-egoisme” pribadi. Tidak ada ketegangan masa lalu yang telah lama bertahun-tahun mengungkung Sintesa dari kejenuhan-kejenuhan berkumpul. Tidak ada perdebatan sengit. Tidak ada kebencian, ketidaksenangan, semua sadar bahwasanya ini merugikan. Kami semua “bombong” dan lapang dada atas diskusi-diskusi dan hasil. Hegar, selaku presidium yang “jenius” telah menemukan formula bagaimana menyatukan beberapa orang menjadi 6 kelompok dengan pilihan masing-masing, kemudian dari 6 kelompok itu disatukan menjadi 2 kelompok yang saling transfer sehingga menjadi tercipta hasil musyawarah dan mufakat.
Malam ini juga telah terjadi “pernikahan ideologis” antara satu ikatan mahasiswa Tegal vs mahasiswa Tegal bersaudara, senior vs junior, pengalaman organisasi vs non pengalaman organisasi, konseptual vs non konsep, organisasi vs paguyuban, manusia yang berorganisasi vs organisasi manusia, professional vs kekeluargaan, manusia Sintesa vs sistem Sintesa, pengurus Sintesa vs anggota Sintesa, individual vs komunitas, sosial vs anti sosial, teori vs praktek, image building vs internal building, semua telah melebur menjadi Sintesa yang menurut Suci, tidak ada di Kamus KBBI karena Sintesis adalah kata bakunya sedangkan Sintesa adalah non baku. Terimakasih kepada para pendahulu yang telah member nama “kumpulan manusia berhati baik” ini dengan nama Sintesa yang artinya adalah ketidakbakuan yang mengacu pada kedinamisan.
Sudah diulas pada tulisan yang lalu (lihat arsip doc di fb ini) oleh Mas Jaya tentang Sintesa dulu adalah makhluk yang ramah tamah dengan kehangatannya yang berubah menjadi makhluk yang mengharuskan anggotanya untuk wajib melakukan proker ini dan proker itu. Meskipun kemudian ini harus ditanggung bersama dan dihadapi dengan rasa senang karena ini adalah amanah. Kini Sintesa kembali ke dulu, kata Dwi Itonk: “Back to Gemenschaft”. Ini suatu metode atau ikhtiar dalam rangka membentuk dan merumuskan lagi Sintesa yang lebih nyaman bagi anggotanya. Sintesa yang akan menawar sejarah Tegal bahkan suatu hari diyakini bisa mengubah sejarah Tegal lewat potensi besar anggota-anggotanya. Hitung berapa banyak anggotanya yang meraih prestasi Universitas hingga internasional, cumlaude, menjadi asisten dosen, hingga melakukan penelitian skripsi tentang Tegal seperti Mba Neli, Mas Ozi, dan Mas Casmito, atau prestasi bidang seni salah satunya adalah sahabat saya, Aji yang telah membuat seruling sendiri dengan scale timur tengah yang aneh.
Tentang menawar sejarah Tegal di tengah kegelapan pemerintahan dan birokrasi, Sintesa yang tidak diiperhatikan pemerintah, tidak dibiayai kecuali jika minta, maka ini adalah praktek dari ayat Al Qur’an tentang “Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali mereka sendiri mau mengubahnya”: kita sedang menyetor sedikit untuk perubahan Tegal sehingga Tuhan berkenan merubah Tegal dan manusianya menjadi lebih baik meskipun kita adalah kenyataan sejarah yang kecil di tengah dunia yang terlalu besar.
Maka mulai hari ini saya sadar dan punya rumusan akan lebih besar pahalanya jika mengurus Sintesa yang tidak dibatasi waktu daripada Organisasi kampus yang sifatnya tahunan itu. Sintesa yang membela hak siswa Tegal (apalagi yang tidak mampu) supaya bisa berkuliah dengan layak di UI dan sekitarnya daripada organisasi kampus yang membela prokernya. Sintesa yang endingnya adalah peseduluran daripada organisasi kampus yang endingnya adalah makan-makan dan LPJ. Satu kata: mungkin hari ini kita harus lebih PEDE sebagai anggota Sintesa. Ya. Benar, kita lebih maju selangkah ketimbang mereka. Meskipun mereka lebih gemerlap, meskipun mereka kelihatan “lebih cerdas”. Hari ini saya baru yakin Sintesa adalah organisasi besar. Organisasi yang besar tidak butuh pengakuan untuk dibesar-besarkan apalagi mengejar kebesaran.
Yakinkanlah dirimu dan kita semua, Sintesa besok adalah Sintesa yang baru. Sebuah pilot project tentang nilai kebersamaan. Sintesa adalah ruang kosong yang akan menampung kita semua. Sukses buat Bams dan pengurus baru ini. Kami mencintai kalian whatever it was.

Budi Mulyawan

Sintesa Sebuah Teori Nilai Kebersamaan

Ada perbedaan pokok pemikiran dari Sintesa sebagai hasil dari penafsiran manusia yang ada di dalamnya di dalam koridor epistemologis “Satu Ikatan Mahasiswa Tegal Bersaudara”. Ada yang penafsirannya menekankan kepada “satu ikatan Mahasiswa Tegal” dan ada yang cenderung menekankan kepada “Mahasiswa Tegal Bersaudara”, dua entitas ini kemudian menjadi sebuah sudut pandang dialektika tentang sistem formal dan nilai kebersamaan. Entitas formal “Satu Ikatan Mahasiswa Tegal” diciptakan dengan keharusan menciptakan sistem yang professional dan terikat dengan yang dinamakan lembaga organisasi. Sedangkan mereka yang menerjemahkan “Mahasiswa Tegal Bersaudara” sebagai nilai kebersamaan menunjuk kepada entitas universal yang tidak perlu dijabarkan dalam sistem terikat sehingga menyebutnya paguyuban.
Kasus dualisme antara entitas formal kelembagaan dan nilai kebersamaan ini terjadi tidak hanya di Sintesa tetapi juga pada sekumpulan orang Tegal yang membentuk komunitasnya masing-masing di ranah mahasiswa seperti IST Stan, Hipotesa, Imaste, IMT Ciputat atau pada segmen yang berbeda tetapi dengan dasar yang sama seperti Dewan Kesenian Tegal, TegalCyber.org, Kaskus Regional Tegal, Pengguna Linux Tegal, Komunitas Musisi Tegal, Paguyuban Ketoprak Tegal, Paguyuban Nasi Goreng Bojong, Paguyuban Warteg, hingga sekelas para pejabat dan pengusaha seperti di IKBT. Semuanya terjerat dengan paradigma antara entitas formal organisasi dan nilai guyub kebersamaan: program kerja dengan peseduluran oriented.
Definisi organisasi (jamiyah-kumpulan) dengan paguyuban (ma’a-kebersamaan) sendiri berbeda. Organisasi secara umum adalah kelompok yang secara bersama-sama ingin mencapai suatu tujuan. Definisi ini dipersempit dari definisi Cyrill Soffer, Kast Rozenzweig yang menekankan pada orientasi pembagian tugas, hasil, dan penekanan tujuan. Organisasi pun secara umum dibagi menjadi klasik, neoklasik, dan modern. Mengacu kepada teori ini saya berpendapat Sintesa dan semua komunitas di atas tidak masuk ke dalam tiga aliran pembagian organisasi karena kita tidak menjadi tuts piano yang statis dalam pembagian organisasi termasuk dalam birokrasi, administrasi, dan manajemen ilmiah (teori klasik).
Kita tidak punya insentif dalam produktifitas (teori neoklasik), maupun memiiki sistem terbuka yang mempunyai perancangan anggaran organisasi dalam setahun (teori modern) meskipun pada prakteknya kita sering menyebut dengan “organisasi” atau “organisasi non profit” karena memang telah disepakati demikian di dalam AD ART Sintesa yang lama. Ini hanya masalah penyebutan dan display yang didukung oleh definisi dari pemerintah. sebenarnya Sintesa yang kita ikuti menurut pemerintah adalah organisasi yang bersifat sosial. Definisi organisasi sosial adalah organisasi yang dibentuk oleh sekumpulan masyarakat untuk menampung partisipasi dalam membangun bangsa dan Negara secara swadaya. Organisasi sosial adalah salah satu wadah partisipasi masyarakat dalam memberikan pelayanan sosial secara swadaya seperti diatur Undang-undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial.
Dalam hati, daripada ikut definisi pemerintah di atas saya lebih suka Sintesa mempraktekan konsep-konsep paguyuban karena Paguyuban adalah perkumpulan para pekerja ahli yang alamiah dari masyarakat. Selama ribuan tahun, masyarakat beradab mengatur perdagangan mereka melalui paguyuban. Sepanjang sejarah, sistem paguyuban mewakili gerak hati alamiah masyarakat untuk memerintah dirinya sendiri menghadapi perubahan-perubahan mengikuti perkembangan dan kemajuan. Tentu saja kemudian paguyuban secara konkrit akan menjadi semacam keluarga tanpa menunggu kebijakan-kebijakan pemerintah.
Bagi yang terbiasa dengan formalisasi, tentu Sintesa akan dijabarkan dengan keterikatan terhadap sebuah sistem yang dianggap mewakili seluruh dari perwujudan nilai yang ada di dalamya. Tentu saja ini akan merujuk pada organisasi yang sifatnya adalah aktif sehingga otomatis mereka yang tidak aktif akan tersisih. ini artinya jika diterapkan konsep organisasi secara berlebihan dalam paguyuban maka anggota Sintesa yang tidak aktif akan menjadi anggota kelas dua yang disisihkan dari nilai kebersamaan.
Ini patut dipersoalkan karena beda antara pengurus Sintesa, anggota Sintesa, dan Sintesa itu sendiri sedangkan ketiga kelas struktur ini mempunyai hak yang sama: dirangkul Sintesa, memiliki Sintesa, menyampaikan aspirasi, ikut berperan serta memajukan Sintesa. Setiap anggota berhak menyatakan buah pandangan atau partikularitasnya di antara anggota Sintesa lain. Dengan demikian, menjadi jelaslah bagi kita bahwa perbedaan pendapat justru sangat dihargai oleh Di Sintesa ini, karena yang tidak diperbolehkan bukannya perbedaan pandangan, melainkan pertentangan dan perpecahan
Dengan demikian, “kesempurnaan sistem” Sintesa sebagai paguyuban, tidak didasarkan pada kekuatan atau wewenang pengurus, melainkan pada kemampuan akal kita sebagai anggota untuk melakukan pemikiran orisinil (ijtihad) sendiri-sendiri untuk memikirkan bentuk-bentuk persaudaraan dan tidak usah menunggu proker dari pengurus. Contohnya program moci bersama (sebagai simbol kebersamaan wong Tegal) tidak usah menunggu dijadikan proker, tetapi saya sendiri dan anak-anak Sintesa sudah mulai mengadakannya dalam komunitas yang lebih kecil. Dalam pandangan saya, kesadaran bersama seperti inilah yang harus kita pelihara dan bukannya diutusnya Nabi kita Muhammad Saw, untuk membawakan persaudaraan di antara sesama manusia?
Melihat kepada “kenyataan” tersebut, jelaslah bahwa di dalam Sintesa kita harus menghindari hidup secara individual (perorangan), melainkan kita harus membuat komunitas masing-masing karena Sintesa sebagai komunitas besar adalah kumpulan komunitas kecil. Bahkan yang memprihatinkan kadang ada anggotanya yang menyendiri atau hanya punya satu dua orang dalam komunitasnya, semua harus berusaha dirangkul. Ini akan menjadikan keseimbangan antara hak-hak dan kewajiban- kewajiban perorangan (individual) dan secara bersama (kolektif). Dalam kehidupan masyarakat Sintesa “kenyataan”. seperti ini harus terus-menerus kita sadari dalam sebuah kehidupan bersama
Dalam sejarah umat manusia, selalu terdapat kesenjangan antara teori dan praktek. Terkadang kesenjangan itu sangatlah besar, dan kadang kecil. Apa yang oleh paham komunisme dirumuskan dengan kata “rakyat”, dalam teori dimaksudkan untuk membela kepentingan orang kecil; tapi dalam praktek justru yang banyak dibela adalah kepentingan kaum aparatchik. Itupun berlaku dalam orientasi paham tersebut, yang lebih banyak membela kepentingan pengurus Sintesa daripada kepentingan anggota Sintesa secara menyeluruh. Karena itu, kita harus berhatihati dalam merumuskan orientasi paham ke-Sintesaan, agar tidak mengalami nasib seperti paham komunisme. Orientasi kita harus kesejahteraan umum berdasarkan objek yang diambil dari seluruh tindakan pengurus.
Nah, di sinilah terletak arti penting deskripsi tentang Sintesa. Dari manakah ia harus dilihat? Dari kenyataan hidup anggotanya (berarti deskripsi empirik), ataukah dari sudut ajaran formal (berarti pendekatan ideal-formalistik) yang bersifat teoritik? Tergantung dari kemampuan kita menjawab hal ini dengan baik. Dari situ “nasib” masa depan Sintesa diuji. Inti dari pandangan seperti itu, terletak pada kesadaran bahwa Sintesa sebagai nilai kebersamaan harus lebih berfungsi nyata dalam kehidupan, daripada membuat dirinya menjadi wahana formalisasi organisasi dengan image building yang tinggi.
Dalam khasanah pemikiran ini, salah satu adagium “harta warisan“ yang sering saya pakai sebagai patokan adalah: “memelihara apa yang baik dari masa lampau, dan menggunakan hanya yang lebih baik yang ada dalam hal yang baru (al-muhâfadzatu’ala al-qadîmi al sâlih wa al akhdzu bi al jadîd al-ashlah).” Apa yang lama dari Sintesa? Jawabannya adalah SGTT, SBB dan semisalnya. Apa yang baru? Contohnya lihat project Chilman Adjie tentang jejaring sosial Sintesa. Ya. Semua butuh dirangkul dan dihargai di sini.

Universitas Tukang Becak

Sedulur-sedulur. Pernah merasa atau tidak mahasiswa yang kuliah itu akhirnya untuk apa? untuk mencari kerja kan? untuk bekerja kan? mula-mula mereka akan jadi manusia bekerja, kemudian akan jadi manusia pekerja, kemudian manusianya hilang dan hanya jadi “pekerja”. Ini kemudian menghilangkan beberapa fitrah kemanusiaan, contoh: “lebih suka membaca buku daripada membaca kenyataan hidup. Salah satu akibatnya adalah lebih menggembor-gemborkan mengenai kerja dan karir daripada membuka lapangan kerja. Karir lebih utama dari membuka hajat hidup orang banyak. Anda kerja di BUMN lebih mulia daripada rumah kecil home industri (nang Tegal contone) sing menghidupi puluhan wong-wong cilik. Bukankah ini logika yang terbalik?
Ini bukan tulisan untuk menyalahkan orang yang kuliah, orang yang bekerja, apalagi Universitas. Tapi ngajak bareng-bareng mikir: apa sebenere Universitas kuwe? definisine iku: “Universitas” yaitu tempat dimana semua ilmu bebas dipelajari tanpa sekat-sekat akademik. kita belajar laut bukan sungai. kita belajar banyak hal bukan belajar hal-hal secara sempit.belajar kuwe ya intine “Alimul Ghoibi Wa Syahadati”. akhire wong-wong bisa ngerti hal-hal sing “gaib” atau sing tidak kasat mata dan bisa paham gamblang tentang ini. Contohnya Tuhan, Malaikat, dsb. Memangnya ada SKS untuk mempelajari Tuhan? Filsafat bukan tuhan, teologi bukan Tuhan, intine ilmu itu kan ya bisa mendekatkan kepada yang “ILMU SEJATI” yaitu Tuhan itu.
Universitas saiki malah menjadi paguyuban fakultas, malah jadi sekat-sekat yang saling membanggakan diri. Aku Dokter kyeh! Aku arsitek kyeh! so what????? bukan itu yang kumaksud tapi apakah ilmu anda sudah: “Alimul Ghoibi Wa Syahadati???” Trus Universitas malah sekarang menjadi komoditas atau toko ilmu itu. Idealnya kan di Universitas njenengan bisa mencari ilmu apa saja, tapi anda akan dibatasi dengan “kasir” yaitu membayar. Ya, ambil apa saja di sini asal bayar. Ambil jurusan apa saja di sini asal bayar.
Ngomong opo wa? serius temen. akakakakak…. ora, kiye sekedar mbuka wacana nggo yang tidak kuliah mbok ya jangan kecewa, jangan sedih, ilmu ada di mana-mana. Yang kuliah ya gak usah GALGIL kamu, wong kamu-kamu cuma pengikut produk-produk pemikiran, model-model yang sudah ada, teori-teori dari orang lain. Kamu adalah konsumen kok songong? Kamu belum menjadi taraf produsen itu dimana pemikiran kamu dipakai oleh orang lain.
Akhir tulisan ini pengen membuktikan bahwa ilmu ada di mana-mana termasuk pada becak. ya! pada becak. Aku menulis tentang becak ternyata becak telah banyak mengajarkan iqra tanpa harus bertutur ketika para guru di sekolah dan universitas telah banyak yang gagap, gagal dan banyak bicara.
Bagaimana dengan hidup manusia itu? Kadang pengayuh becak lebih tahu kapan harus dikayuh. Kapan harus direm. Kapan harus menyeberang. Daripada manusia yang lupa diri.
Bagaimana dengan eksekutif negara ini? Dia ban belakang yang bocor. Diantara dua ban depan. Dengan pengayuh renta TRIAS POLITICA!
Bagaimana dengan ekonomi mikro negara ini? Tanyakan pada mereka. Bagaimana menjalani hidup. Bagaimana dengan cinta itu? Teruslah mengayuh. engkau akan sampai. Teruslah mengantarkan. engkau akan dibayar. Bagaimana dengan rejeki itu? Ada mereka yang mangkal. Ada yang berjalan menjemput
Bagaimana ketika engkau sedang bersedih? Pandangilah mereka. Ada jiwa besar dalam orang-orang kecil. Bagaimana dengan beban hidupmu? taruhlah semuanya di depan. Dan mulailah mengayuh antarkan beban itu pada alamatnya
Bagaimana dengan membaca Alqur’an dan bersholawat. Dia oli yang akan melumasi rantai becak. Ia kemudian akan melahirkan banyak momen Untuk berjumpa dengan yang diinginkan. Bagaimana dengan bagaimana dengan bagaimana dengan? Iqra bismirabbikalladzi kholaq Lihatlah dan bacalah becak!
Tulisan untuk:
Universitas Tukang Becak, Universitas yang lebih banyak mengajarkan kehidupan

Budi Mulyawan

Ketika Dalban Menceritakan Sejarah VW

Saya tertarik dengan kaos anda, kok bunyinya bukan Volkswagen ya tapi Vokoke warteg??? Coba Kita sedikit belajar sejarah Volkswagen sebelum kita mau memplesetkannya. Mbok ya jangan mempleset plesetkan gitu, itu kan merek terkenal. Malu kalo kita nggak tau sejarahnya, kita nggak tau maknanya kemudian mempleset plesetkannya. Maaf mas kenalan dulu, saya Dalban PhD, lulusan sejarah indonesia dari Utrech, Belanda” Kata Dalban membuka pembicaraan
“Oh kaya kuwe mas? Lha mase Tegal dudu?” Kata Udin, sang penjaga Warteg sambil menyiapkan makanan untuk Dalban.
“Bukan mas, saya orang indonesia. Saya pengamat sejarah dan peradaban. Saya orang pintar karena kuliah di luar Negeri. Saya Intelektual. Saya belajar sejarah di Eropa, banyak yang bisa saya jelaskan pada anda termasuk sejarah VW. VW ini konstruksinya luar biasa, saya hapal mas. hapal di luar kepala konstruksi konstruksi VW itu jadi kalo saya pake kaos VW pun saya nggak malu”
Dalban PhD terus nerocos: Nih mas saya ceritakan ada yang unik dengan konstruksinya. Paralel dengan pembuatan Kodok/Tipe 14 saudara sepupu Karmann Ghia, VW meminta Carrozeria Ghia untuk merancang desain sebuah Tipe-III model sport. Sebuah versi konvertibel dari T34 diluncurkan di Frankfurt Auto Show pada tahun 1961, tetapi tidak sampai tahap produksi. Salah satu kejadian yang penting untuk sejarah produksi Tipe-III adalah perubahan besar untuk model 1970 dan opsi transmisi otomatik penuh mulai model tahun 1968. Mungkin salah satu sumbangan Tipe-III untuk komunitas otomotif adalah dengan memperkenalkan Electronic Fuel Injection (EFI) pada tahun 1968an. Walau EFI telah ada sebelumnya, tetapi sampai saat itu belum pernah dipakai untuk produksi masal. VW mengakhiri produksi Tipe-III dengan model tahun 1973. Jumlah keseluruhan Tipe-III yang diproduksi adalah sekitar 2 juta unit, tetapi sangatlah sulit untuk mendapatkan angka pastinya”
“Kowen ngomong apa sih? mangan gari mangan oh. enyong ora ngerti. enyong ora kuliah dadine aku ora ngerti metodologi time series. enyong wartegan, enyong ora sekolah tapi melek sejarah. enyong olih dianggep nt ora sarjana tapi enyong peka sosial. enyong ngertine Hittler kuwe sosialis trus ya radan bisa ngerteni wong cilik. VW nang digawe nggo wong cilik. Porsche kae sih sing nang Cilandak Showroome tah pantese nggo pengusaha kamen pejabat atawa pengacara” Si Udin mulai tidak suka kesotoyan Dalban yang mengintervensi kaosnya
“Dang nang Jerman kudu nggawe semacam Porrshe, atawa VW, atawa audi nggo menyatukan kekeluargaan, nggo gawe keluarga besar. dang nang kene, cukup aku mbuka warteg. nang kene aku membuka persaudaraan dengan siapa saja. Enyong membuka persaudaraan dengan siapapun yang makan atau nggak makan di warung ini. Enyong nggak peduli ente buruh bangunan, tukang becak, sopir taksi, pejabat, lulusan sorbonne, lulusan utrech, lulusan UI, ITB”  Si Udin menambahkan
“Ya VW kuwe tak gawe kepanjangane Vokoke Warteg!!! Murah Meriah Mluntrahhh. Nang Utrech laka o ya? kwehh. Kota tertua nang Landa be laka warteg. Tertua apane umure nembe 2000 taun. Digemuyuni tok oh karo Ki Gede Sebayu sing awit mbiyen wis mbangun Kali Gung dadi peradaban luar biasa. Dari batu kali sampai batu mulia bisa digarap. Peribasane Debog e gedang dirog ganing wong Tegal bisa metu seher e. Kiye angger tak terusna aku bisa ngamuk, wis mangan mangan! Mumpung murah trus aja kaget dang segane mluntrah. Aja sotoy kown aku anak buahe Um GalGil!!!” Si Udin mewanti wanti.
Dalban pun mlongo, kemudian ia mengaku sebenarnya juga wong Tegal.

Warteg, Im Loving It

“It’s terrible to see inside warteg!” Kalimat itu yang akan saya katakan ketika saya menjadi orang Barat (mungkin Amerika, Canada, Inggris, atau “walondo”) ketika saya berkunjung ke salah satu warteg di Salemba. Anda adalah orang yang gila menurut saya jika rela mengeluarkan kocek sekitar kurang dari USD 1 untuk membeli sepiring nasi dengan lauk pauknya sementara ketika anda sedang makan anda dihadapkan pada dapur yang sangat buruk sanitasinya, piring dan gelas yang menumpuk kotor, ancaman hepatitis B, debu debu dari lalu lalang kendaraan di jalan raya yang mungkin mengandung virus, bakteri atau semacam gas karbon monooksida yang jika dihirup orang makan akan “kesenggruk”.
Kenyataan berbeda jauh, saya dilahirkan di Talang, Kabupaten Tegal bukan di Florida, Ontario atau di Leiden. Ya. Tahukah anda apa itu Kabupaten Tegal atau “Tegal” itu sendiri? Kota Warteg. Betapa tidak, jumlah warteg kini di Jakarta 34.725 tersebar di seluruh Jabodetabek. Hampir di setiap belokan, persimpangan, perempatan, hingga sudut sudut kota ada warung kecil bertuliskan “warteg” atau bahkan tanpa identitas.
Kini cobalah anda bayangkan, hilangkan semua pemukiman dan sisakan jumlah warteg tadi. Anda akan tetap melihat Jabodetabek itu di Citra Geo Eye akan terdapat banyak sekali titik lokasi warteg: mereka beraglomer, mereka terkait dengan bagaimana tempat itu menguntungkan mereka. Mereka telah merintis sejarah sejak lama, ketika pondok indah, pondok bambu, pondok kelapa, dan pondok pondok yang lain sedang dibangun oleh kuli kuli pada masa lampau, warteg mengiringi pembangunan “pondok” yang secara toponimi adalah “kampong, dusun, perumahan kecil”
Lalu cobalah berjalan kesana kemari di Jakarta, di hampir setiap arteri jalan, di hampir setiap keramaian terdapat busur kuning berbentuk huruf “M”. Tidak ada kejelekan di dalam restoran cepat saji ini. Semuanya tertata rapi, dengan pelayannya yang ramah dan murah sapa. Semua tempat terlihat bersih tanpa ancaman atau bebas tervaksinasi dari penyakit-penyakit semacam yang saya sebut tadi di atas.
Anda sedang melihat satu pembalikan dari segala jenis pembalikan. Bersih-kotor, Higienis-Tidak Higienis, Rapi-Amburadul, Mahal-Murahan, kelas atas-kelas bawah, mapan-marjinal, modal besar-modal kecil, dan bahkan ada yang tidak terima dengan pembalikan ini, mereka berdua sama-sama ingin dikenakan pajak karena hanya alasan inilah yang merupakan kesamaan kedua jenis penyedia makanan ini.
Tidak ada salahnya makan di Warteg lalu makan di Mc D, yang salah adalah ketika anda membawa makanan warteg masuk di Mc D. Anda pun tidak salah ketika membawa Makanan dari Mc D, KFC, Pizza Hut, Hoka Hoka Bento masuk ke Warteg, kemudian anda makan makanan itu di dalamnya dan hanya memesan es teh.
Anda tidak salah ketika memakai baju dengan huruf M dan ditambah dengan Mc Donald karena itu adalah brand fastfood dengan lebih dari 30.000 cabang di seluruh dunia dan mungkin jika Tuhan mengijinkan mereka bisa membuka cabang di Akherat saking larisnya.
Anda salah ketika memakai baju dengan huruf W yang disamakan dengan M lalu anda berjalan keluar rumah. Anda akan dianggap over pede, aneh, orang freak, dan ditertawakan. Anda tidak gentar karena tidak ada yang aneh pada Warteg. Warteg tidak punya pendiri, tidak punya kapan tanggal didirikan, tidak punya logo, tidak punya symbol, cukup punya sifat “menampung”, “mempersilakan”, dan “menggratiskan” bila perlu. Bahkan warteg tidak mempunyai identitas yang pantas “dikaoskan”. Warteg hanya tersenyum ngikik ketika akhirnya Mac dan adiknya, Dic justru meninggalkan Kroc karena agresifitasnya dalam berekspansi.
Semua pihak pada akhirnya harus punya cinta, Mc Donald Im Loving it, dan Warteg (50-an, pasca kemerdekaan. Lahir di Indonesia) juga harus dicintai karena merupakan kakak dari Mc D (Lahir di Indonesia 90-an, Blasteran)